banner 728x180
Daerah  

Keluhan Pengusaha Madura: Tantangan Mengelola Karyawan di Tengah Realitas Sosial Lokal

banner 120x600
banner 468x60

Inpopedia, Madura – Menjadi wirausaha di Pulau Madura tidak hanya membutuhkan kecakapan membaca peluang pasar, tetapi juga kemampuan memahami karakter sosial masyarakat setempat. Salah satu tantangan utama yang dihadapi para pelaku usaha lokal adalah persoalan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang kerap berbenturan dengan realitas budaya dan hubungan sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan usaha mikro dan kecil di wilayah Madura menunjukkan tren positif, terutama di sektor kuliner, perdagangan, jasa transportasi, serta usaha berbasis keluarga. Namun di balik geliat tersebut, banyak pengusaha mengaku menghadapi kesulitan menjaga stabilitas tenaga kerja.

Loyalitas Tinggi, Disiplin Kerja Jadi Tantangan

Hubungan kekerabatan yang kuat di tengah masyarakat Madura dinilai menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kedekatan emosional antara pemilik usaha dan karyawan menumbuhkan loyalitas yang tinggi. Namun di sisi lain, penerapan disiplin kerja sering kali terkendala norma sosial.

Karyawan kerap meminta kelonggaran waktu kerja karena urusan keluarga, kegiatan sosial desa, atau agenda keagamaan yang tidak selalu dapat diprediksi. Kondisi ini menuntut pengusaha untuk lebih fleksibel dibandingkan sistem kerja di perusahaan formal perkotaan.

“Sulit menerapkan aturan kerja yang terlalu kaku. Kalau terlalu tegas, bisa dianggap tidak menghargai hubungan sosial,” ujar Sumriyadi, seorang pengusaha kuliner di Kabupaten Bangkalan.

Rekrutmen Berbasis Relasi Sosial

Sebagian besar pengusaha merekrut karyawan melalui jaringan keluarga atau kerabat dekat. Cara ini memudahkan proses perekrutan, namun sering menimbulkan dilema ketika kinerja karyawan tidak sesuai harapan.

Pemilik usaha kerap berada pada posisi sulit antara mempertahankan profesionalitas bisnis atau menjaga keharmonisan hubungan sosial di lingkungan sekitar.

Kesenjangan Keterampilan dan Pelatihan

Selain faktor budaya, keterbatasan keterampilan tenaga kerja juga menjadi persoalan. Banyak pelaku usaha harus melatih karyawan dari tahap dasar, mulai dari pelayanan konsumen hingga pencatatan keuangan sederhana.

Proses pelatihan tersebut membutuhkan waktu dan biaya tambahan, sementara tingkat pergantian karyawan masih cukup tinggi, terutama pada usaha skala kecil.

Adaptasi Jadi Kunci Bertahan

Pengamat ekonomi lokal menilai keberhasilan wirausaha di Madura sangat ditentukan oleh kemampuan adaptasi sosial pengusaha. Pendekatan kepemimpinan yang memadukan profesionalitas dengan kearifan lokal dinilai lebih efektif dibandingkan menerapkan sistem manajemen modern secara kaku.

Pengusaha dituntut tidak hanya berperan sebagai manajer bisnis, tetapi juga mediator sosial yang memahami karakter masyarakat sekitar.

Harapan ke Depan

Para pelaku usaha berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui pelatihan manajemen SDM, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta pendampingan usaha berbasis komunitas. Dengan dukungan tersebut, wirausaha di Madura diharapkan dapat tumbuh lebih stabil tanpa harus mengabaikan nilai sosial yang telah mengakar kuat di masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *