pasang banner iklan 728x90

Usia 70 Bukan Batas, Perjuangan Ibu Sumiyem Menuntut Ilmu di PKBM ALIF

banner 120x600
banner 468x60

Inpopedia – Di sebuah sudut Pondok Ranggon, Jakarta Timur berdiri sebuah lembaga pendidikan nonformal bernama PKBM ALIF. Di sanalah kisah Ibu Sumiyem tumbuh—kisah tentang ketekunan, harapan, dan keberanian melawan batasan usia.

Kendati Ibu Sumiyem sudah berusia 70 tahun, bukan halangan baginya untuk memantapkan diri untuk melanjutkan pendidikan.

Ia membesarkan tujuh anak hingga dewasa dan berkeluarga, yang memberinya 17 cucu menjadi sumber kebahagiaan baginya.

Namun, di balik senyumnya yang hangat, tersimpan satu tekad impian yang lama tertunda, yakni melanjutkan pendidikan hingga tuntas. Ia belajar di PKBM ALIF sejak paket B setara SMP dan kini di paket C setara SMA.

Dulu, keadaan memaksanya berhenti sekolah. Faktor ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya harus memilih bekerja atau belajar. Tahun demi tahun berlalu, dan impian itu perlahan tersimpan rapi—hingga suatu hari, ia memutuskan untuk membuka kembali lembaran yang sempat tertutup.

Dengan langkah mantap, Ibu Sumiyem mendaftarkan diri sebagai siswa di PKBM ALIF. Banyak yang sempat ragu. “Apa tidak capek, Bu? Sudah usia segini,” tanya beberapa orang. Ibu Sumiyem hanya tersenyum. Baginya, usia bukan penghalang, melainkan pengingat bahwa waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Ia rajin mengikuti kelas pembelajaran dengan semangat yang tak kalah dari peserta didik yang jauh lebih muda. Ia mencatat, membaca, dan bertanya tanpa ragu. Bahkan ketika materi terasa sulit, ia tidak menyerah. Di rumah, ia tetap meluangkan waktu belajar di sela mengurus keluarga dan bermain dengan cucu-cucunya.

Puncak perjuangannya tiba saat ujian. Di ruangan yang sama dengan peserta lain, Ibu Sumiyem duduk dengan tenang, mengisi satu demi satu soal di laptop dengan penuh keyakinan. Meski harus dipandu oleh guru pengawas karena keterbatasan penglihatan, tapi tekadnya jauh lebih kuat. Ia mengerjakan setiap soal dengan hati-hati, seolah setiap jawaban adalah langkah kecil menuju mimpi yang lama ia pendam.

Bagi Ibu Sumiyem, ujian bukan sekadar penilaian akademis. Itu adalah simbol kemenangan atas keraguan, rasa takut, dan batasan yang sering dibuat oleh diri sendiri maupun orang lain.

Kini, kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi, waktu, bahkan usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dari dirinya, masyarakat belajar bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang berani mencoba.

Ibu Sumiyem mungkin hanyalah satu dari sekian banyak warga belajar di PKBM. Namun semangatnya telah menjelma menjadi cahaya—menerangi jalan bagi siapa saja yang pernah merasa terlambat untuk bermimpi.

Karena pada akhirnya, belajar tidak mengenal usia. Dan Ibu Sumiyem telah membuktikannya.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777