banner 970x250

Ambil Buah Sukun dan Dituduh Curi Sepatu PDL, Oknum TNI Aniaya Dua Pria, Satu Tewas

banner 120x600
banner 468x60

Inpopedia, Pekan Baru – Gunawan Sentosa meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan oleh seseorang yang mengaku anggota TNI Marinir karena mengambil buah sukun dan dikira mencuri sepatu PDL. Achmad Zahri T, S. H. , pengacara korban dari Kantor Advokat AZET, SH and Rekan yang berlokasi di Jl. Dahlia No. 97, Sukajadi, Kota Pekan Baru, menjelaskan kronologi kejadian ketika dihubungi oleh media melalui WhatsApp.

“Kejadian bermula pada hari Jumat, 15 Agustus 2025, ketika almarhum Gunawan Sentosa dan Supriyanto pada sekitar pukul 13. 00 WIB mengambil buah sukun dari pohon yang berada di tanah kosong di belakang rumah di Jln. Kampar Satu, RT. 02, RW. 01, Kelurahan Sekip, Kecamatan 50, Pekan Baru, Riau,” ujarnya melalui WhatsApp, pada hari Jumat, 29 Agustus 2025.

Ia melanjutkan, setelah mereka mendapatkan 10 buah sukun, seseorang bernama Ibnu Gunawan alias Igun mendekati mereka dan menuduh mereka mencuri buah tersebut. “Setelah mendengar tuduhan itu, mereka (korban-red) meminta maaf kepada Igun, berharap masalah akan selesai, tetapi ternyata Igun melapor kepada Zulkifli Malik yang diketahui merupakan oknum anggota TNI berpangkat Letnan Satu (Lettu),” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Zulkifli Malik kemudian membawa kedua korban ke lokasi kejadian, tetapi saat dalam perjalanan di Jl. Kampar, oknum itu mengeluarkan senjata api dan memukul kepala kedua korban sambil memaksa mereka mengaku telah mencuri sepatu PDL miliknya yang hilang beberapa hari sebelumnya. “Karena keduanya tidak mengakui, oknum TNI tersebut semakin marah dan menyiksa mereka meskipun darah terus mengalir,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa oknum tersebut bahkan memukul Gunawan Sentosa menggunakan cangkul taman yang ditujukan ke wajahnya, dan korban sempat menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak puas dengan penganiayaan tersebut, oknum ini bersama dua oknum TNI lainnya berinisial Ptr dan Prbd terus menerus mengintimidasi Gunawan Sentosa,” tambahnya.

Sementara itu, Supriyanto, karena tak tahan dengan pukulan dan tendangan, hanya tergeletak menahan sakit seperti orang pingsan, sehingga kemarahan oknum itu dilampiaskan kepada Gunawan Sentosa. Setelah merasa cukup menyiksa kedua korban, oknum itu memerintahkan mereka untuk membersihkan darah yang berceceran di teras rumah tempat penganiayaan terjadi, meskipun kondisi kedua korban sangat lemah disaksikan oleh dua oknum anggota lainnya.

“Setelah mereka membersihkan lantai teras, oknum itu menghubungi anggota Polsek 50 dan meminta mereka untuk menjemput kedua korban,” tuturnya. “Tak lama kemudian, anggota Polsek 50 tiba dengan mobil patroli dan membawa kedua korban ke Polsek, tetapi karena melihat kondisi mereka parah, anggota Polsek 50 kemudian membawa korban ke RS Bayangkara. Setelah mendapatkan perawatan, kedua korban kembali dibawa ke Polsek 50 dan diinapkan di sana dengan alasan menunggu laporan tentang pencurian,” jelasnya.

“Karena pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025, sekitar pukul 12. 00 WIB, korban diperbolehkan pulang dan dijemput oleh keluarganya,” tambahnya. “Namun, karena kondisi kesehatan yang menurun, pada 22 Agustus 2025, keluarga membawa korban ke RSUD Arifin Ahmad, tetapi karena kondisinya sangat kritis, akhirnya almarhum Gunawan Sentosa meninggal dunia sekitar pukul 08. 20 WIB,” imbuhnya.

Ia juga menyebutkan bahwa seluruh rangkaian peristiwa tersebut diceritakan dengan jelas oleh Supriyanto dan selama penganiayaan, menurut Supriyanto, tidak ada keterlibatan orang lain selain oknum TNI bernama Zulkifli Malik, yang menunjukkan bahwa pelaku adalah tunggal, berbeda dengan yang diceritakan oleh Zulkifli Malik untuk membela dirinya.
“Mendengar kabar tentang meninggalnya Gunawan Sentosa, keluarga menantikan kedatangan Zulkifli Malik ke rumah duka. Namun, informasi yang diterima oleh keluarga justru menunjukkan bahwa Zulkifli Malik mengunjungi saksi-saksi kejadian, termasuk para pengemudi Ojek Online, dengan cara mengancam dan memerintahkan mereka untuk menghapus semua rekaman tentang insiden penganiayaan,” ujarnya.

Bahkan, seorang ibu yang berjualan di samping lokasi kejadian juga menerima ancaman yang membuatnya sangat trauma, hingga ia menggigil dan menangis ketakutan.

“Tindakan Zulkifli Malik sebagai oknum TNI benar-benar sangat brutal dan tanpa rasa kemanusiaan, memaksa korban untuk mengaku mencuri barang miliknya. Ketika korban tidak mengaku, ia mengalami penganiayaan yang sangat keras, yang berakibat pada satu korban yang meninggal,” tegasnya.

“Keluarga korban meminta agar pelaku diproses secara hukum dengan transparan dan dijatuhi hukuman yang setimpal, serta dipecat dengan cara yang tidak terhormat dari ketentaraan,” tambahnya.

Saat ini, pelaku telah ditahan di rumah tahanan Bais, Kalibata, Jakarta.
(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *