Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pendidikan bagi anak yatim dan dhuafa tidak cukup hanya berupa santunan. Mereka membutuhkan pembinaan yang menyentuh karakter, identitas kebangsaan, dan kemandirian ekonomi. Dari kebutuhan itulah Rindang Indonesia menggagas dan mengaplikasikan konsep 3-IS: Agamais, Nasionalis, dan Berjiwa Bisnis.
Konsep ini sederhana, namun strategis. Pilar pertama, Agamais, bertujuan menanamkan akhlak, disiplin, dan keteguhan iman sebagai modal utama membangun peradaban.
Anak-anak asuh tidak hanya diajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi memahami makna kejujuran, tanggung jawab, dan amanah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58). Nilai amanah inilah fondasi karakter.
Pilar kedua; Nasionalis, membentuk kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia. Anak-anak yatim dan dhuafa bukan objek belas kasihan, melainkan calon pemimpin masa depan.
Mereka dibina untuk memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Sumpah Pemuda, Pancasila, Kebhinekaan, semangat gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad). Spirit kebermanfaatan ini menjadi jiwa nasionalisme yang membumi.
Pilar ketiga; Berjiwa Bisnis dan Wirausaha, menjawab persoalan klasik kemiskinan: ketergantungan. Anak-anak dilatih memiliki pola pikir kreatif dan produktif, mengenal literasi keuangan, dan membuat proyek usaha sederhana.
Mereka diajak memahami bahwa bekerja dan berusaha adalah bagian dari ibadah. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
Tiga pilar ini tidak berdiri sendiri. Agama memberi nilai, nasionalisme memberi arah, dan jiwa bisnis memberi daya tahan. Tanpa nilai, usaha bisa kehilangan moral. Tanpa kesadaran sosial, kesuksesan menjadi egois. Tanpa kemandirian ekonomi, semangat mudah runtuh oleh keterbatasan.
Model pendidikan 3-IS ini berupaya memutus rantai kemiskinan secara lebih sistematis. Anak-anak asuh tidak hanya dibekali bantuan sesaat, tetapi dipersiapkan menjadi generasi yang beriman, berkontribusi, dan berdaya.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi memperkuat masyarakat.
Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11). Pendidikan 3-IS adalah ikhtiar untuk menghadirkan perubahan itu dari dalam: dari kesadaran, karakter, dan kemandirian.
Mendidik yatim dan dhuafa bukan semata tugas sosial, melainkan investasi peradaban. Ketika nilai agama mengakar, semangat kebangsaan tumbuh, dan mental wirausaha terbentuk, maka lahirlah generasi tangguh yang siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.
Karena sejatinya, mereka bukan generasi yang kekurangan. Mereka adalah generasi yang sedang dipersiapkan.

















