Inpopedia, Semarang – Pemerintah menegaskan langkahnya untuk merawat dan menguatkan pesantren sebagai lentera pendidikan dan peradaban. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren kini hampir mencapai garis akhir. Kehadiran lembaga setingkat eselon I ini menjadi penanda nyata kesungguhan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengangkat martabat dan kemandirian pesantren di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan saat Menteri Agama bersilaturahmi ke Pesantren Al Itqon Bugen, Semarang. Dalam kunjungan yang sarat makna itu, Menag turut menyerahkan bantuan senilai Rp100 juta untuk MTs Al Itqon Bugen Semarang, sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat mutu layanan pendidikan madrasah dan pesantren di tanah air.
Dalam sambutannya, Menag menegaskan bahwa pemerintah kini semakin serius menumbuhkan ekosistem pesantren yang kokoh dan berdaya. Ia menyampaikan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan simbol komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan lembaga pesantren sekaligus mendorong kemandirian ekonominya.
Menag juga menyoroti tantangan zaman yang kian berlapis. Menurutnya, pesantren tidak hanya membutuhkan ruang belajar yang memadai, tetapi juga harus diperkuat dengan fasilitas digital agar para santri mampu berjalan seiring dengan arus perkembangan teknologi dan informasi.
Selain itu, penguatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren menjadi perhatian utama. Pemerintah berharap para guru dan pengelola pesantren dapat meningkatkan kompetensi, baik dalam penguasaan ilmu keislaman maupun metode pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan generasi masa kini.
Tak berhenti pada pendidikan, Menag juga mendorong pesantren untuk memperluas kemandirian ekonomi melalui pengembangan unit usaha produktif. Upaya ini diharapkan tidak hanya menopang operasional pesantren, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon Bugen Semarang, K.H. Kharis Shodaqoh, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian Kementerian Agama. Ia menilai bantuan tersebut menjadi energi baru bagi pesantren untuk terus meningkatkan mutu pendidikan para santri.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat membantu dalam menjawab berbagai kebutuhan pesantren saat ini. Bantuan tersebut akan digunakan untuk memperkuat sarana pembelajaran serta pengembangan program pendidikan di MTs Al Itqon, agar para santri tidak hanya kukuh dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan sosial dan akademik di masyarakat.
Pesantren Al Itqon sendiri mengusung kurikulum yang memadukan 40 persen kajian kitab kuning dengan 60 persen kurikulum nasional. Proses transfer ilmu dilakukan melalui metode tradisional seperti bandongan, sorogan, dan halaqah, yang berpadu dengan pendekatan pembelajaran modern berupa diskusi tematik serta proyek kolaboratif.
Perpaduan ini menjadi cermin bagaimana pesantren menjaga akar tradisi keilmuan klasik sambil merentangkan sayap menuju pendidikan yang relevan dengan zaman. Melalui penguatan dukungan terhadap madrasah dan pesantren, Kementerian Agama berharap akan lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam keilmuan dan akhlak, tetapi juga tangguh dan mampu bersaing di tengah perubahan dunia yang terus berputar. Saeful

















