Inpopedia – Di masyarakat yang gemar memuja angka pertumbuhan, kita sering terjebak pada satu ilusi lama bahwa kemiskinan hanyalah soal kekurangan uang. Seolah-olah, begitu dompet terisi, semua persoalan selesai. Padahal, realitas di lapangan jauh lebih getir dan lebih jujur.
Apa yang sesungguhnya hilang dari orang miskin bukan sekadar pendapatan atau uang melainkan kemampuan (kapabilitas) untuk memilih hidupnya sendiri.
Pemikiran ini bukan datang dari aktivis jalanan atau retorika politisi, melainkan dari seorang ekonom peraih Nobel, tahun 1998, Amartya Sen.
Ia memperkenalkan konsep capability deprivation—sebuah gagasan yang secara telak membongkar cara dangkal kita memahami kemiskinan.
Menurut Sen, kemiskinan adalah kondisi ketika seseorang kehilangan “kapabilitas”: akses, kesempatan, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Dengan kata lain, kemiskinan adalah penjara pilihan.
Contohnya, seorang anak di kota besar bisa memilih sekolah mana yang ia inginkan. Sementara di pelosok desa, seorang anak bahkan harus memilih antara sekolah atau membantu orang tua bertahan hidup. Ini bukan soal rajin atau malas—ini soal pilihan yang sejak awal sudah dipersempit.
Seorang pekerja kelas menengah bisa menolak pekerjaan yang tidak layak. Tapi bagi buruh harian, menolak berarti tidak makan. Dalam situasi seperti ini, “pilihan” bukan lagi kebebasan, melainkan kemewahan.
Di titik inilah narasi motivasi yang kerap digaungkan—bahwa sukses ditentukan oleh pilihan—menjadi terdengar problematik. Karena faktanya, tidak semua orang diberi ruang yang sama untuk memilih.
Kita hidup dalam struktur sosial yang timpang: pendidikan tidak merata, layanan kesehatan belum universal, dan akses ekonomi masih dikunci oleh privilese. Dalam sistem seperti ini, menyederhanakan kemiskinan sebagai “salah memilih” bukan hanya keliru, tapi juga tidak etis.
Lebih parah lagi, narasi itu diam-diam memindahkan tanggung jawab—dari negara dan sistem—ke individu yang justru paling rentan.
Padahal, jika kita jujur, yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan tunai, Makan Bergizi Gratis (MBG) atau program karitatif.
Justru tang dibutuhkan adalah membuka kembali ruang-ruang pilihan yang selama ini tertutup seperti akses pendidikan yang merata dan setara, layanan kesehatan yang layak dan murah, dan kesempatan ekonomi yang adil dengan stimulus kredit ringan dan lainnya.
Karena pada akhirnya, ukuran kesejahteraan bukan terletak pada seberapa banyak yang dimiliki seseorang, melainkan pada seberapa luas pilihan hidup yang tersedia baginya.
Dan selama masih ada warga yang bahkan tidak bisa memilih masa depannya sendiri, maka kita tidak sedang berbicara tentang kemiskinan semata—kita sedang berbicara tentang kegagalan keadilan.***
















