(Refleksi Dr. Kartini Istikomah pada Peringatan 1 Syuro 1448 H di Al Zaytun)
Oleh : Ali Aminulloh
Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung pencakar langit, pesatnya pertumbuhan ekonomi, atau canggihnya teknologi yang dimiliki.
Kemajuan sejati juga tercermin dari kemampuan masyarakatnya untuk hidup berdampingan dalam keberagaman, menghargai perbedaan, dan membangun kehidupan bersama yang dilandasi saling percaya.
Nilai-nilai itulah yang menjadi perhatian Dr. Kartini Istikomah, S.E., M.M., Dosen Universitas Budi Luhur dan Ombudsman Commissioner RI periode 2011–2016, saat menjadi salah satu narasumber dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).
Di tengah tema besar “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global,” Kartini mengajak peserta melihat bahwa persatuan dan kemandirian bangsa sesungguhnya berawal dari kemampuan membangun budaya toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Menyaksikan Toleransi dalam Praktik Nyata
Bagi Kartini Istikomah, salah satu kesan yang paling kuat selama mengikuti kegiatan di Al Zaytun adalah suasana kebersamaan yang tumbuh di tengah keberagaman.
Ia menyaksikan bagaimana tokoh agama, akademisi, pejabat, masyarakat umum, hingga tamu dari berbagai latar belakang dapat duduk bersama dalam suasana yang penuh penghormatan dan persaudaraan.
Menurutnya, apa yang terlihat di Al Zaytun merupakan gambaran kecil tentang cita-cita besar Indonesia.
Indonesia dibangun di atas keberagaman.
Perbedaan agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial bukanlah penghalang untuk hidup bersama, melainkan kekayaan yang harus dirawat dan dijaga.
Dalam pandangannya, toleransi tidak cukup hanya menjadi wacana.
Toleransi harus hadir dalam tindakan nyata, dalam cara berpikir, dalam cara berinteraksi, dan dalam kesediaan menerima keberagaman sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
Integritas sebagai Fondasi Kemajuan
Selain menyoroti pentingnya toleransi, Kartini juga menekankan perlunya membangun integritas sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Menurutnya, kemajuan tidak akan bertahan lama apabila tidak ditopang oleh karakter yang kuat.
Bangsa yang besar memerlukan manusia-manusia yang jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki komitmen terhadap kepentingan bersama.
Karena itu, pembangunan sumber daya manusia tidak boleh hanya berfokus pada aspek kecerdasan intelektual semata.
Pendidikan juga harus membentuk karakter dan moralitas.
Generasi muda Indonesia harus dipersiapkan menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Dalam konteks itulah pendidikan memegang peranan yang sangat strategis.
Pendidikan untuk Melahirkan Generasi Mandiri
Kartini Istikomah meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan utama untuk melahirkan generasi yang mandiri dan berdaya saing.
Menurutnya, tantangan global yang semakin kompleks menuntut hadirnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta semangat belajar sepanjang hayat.
Namun kemampuan tersebut harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan.
Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Karena itu, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Perempuan dan Masa Depan Bangsa
Sebagai akademisi dan tokoh publik yang lama berkecimpung dalam pelayanan masyarakat, Kartini juga menyinggung pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membentuk kualitas generasi masa depan.
Dari lingkungan keluarga hingga dunia pendidikan, perempuan memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Karena itu, pemberdayaan perempuan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional.
Bangsa yang ingin maju harus memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Persatuan sebagai Jalan Menuju Kemandirian
Dalam pandangan Kartini, tema yang diangkat pada peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi Indonesia saat ini.
Persatuan merupakan syarat utama bagi terciptanya kemandirian.
Tidak ada bangsa yang mampu menjadi kuat apabila masyarakatnya terpecah oleh konflik dan prasangka.
Sebaliknya, bangsa yang mampu menjaga persatuan akan memiliki kekuatan sosial yang sangat besar untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Karena itu, seluruh elemen bangsa harus terus menjaga semangat kebersamaan, memperkuat toleransi, dan membangun budaya dialog dalam kehidupan bermasyarakat.
Merawat Harapan Indonesia
Menjelang akhir paparannya, Kartini Istikomah mengajak seluruh peserta untuk terus merawat optimisme terhadap masa depan Indonesia.
Ia meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi bangsa maju dan bermartabat.
Yang diperlukan adalah komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan, membangun integritas, menjaga toleransi, dan merawat persatuan.
Dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun, Kartini menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam.
Bahwa Indonesia yang kuat bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi.
Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang masyarakatnya mampu hidup rukun dalam keberagaman, menjunjung tinggi integritas, dan bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, peradaban yang besar selalu dibangun oleh manusia-manusia yang mampu menghormati sesamanya, menjaga persatuannya, dan mengabdikan dirinya bagi kemajuan bangsa.
















