Inpopedia, TAKALAR – Bupati Takalar Daeng Manye mulai mematangkan langkah strategis untuk membangun Kawasan Pendidikan Agroekologi yang mengintegrasikan praktik pertanian berkelanjutan dengan penguatan teknologi dan digitalisasi desa.
Gagasan tersebut mengemuka dalam sejumlah pertemuan yang melibatkan pemangku kepentingan pertanian, akademisi, serta pemerintah daerah.
Konsep yang sedang dirancang ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga pada upaya menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat kapasitas petani, serta menciptakan ruang pembelajaran bersama bagi masyarakat, pemerintah, dan dunia pendidikan.
Melalui pendekatan agroekologi, Takalar diharapkan mampu menjadi contoh pembangunan pertanian yang produktif sekaligus berwawasan lingkungan.
Selain pengembangan sektor pertanian, program tersebut juga diarahkan untuk terhubung dengan agenda besar digitalisasi desa yang telah menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Pemanfaatan teknologi digital dinilai penting untuk mendukung tata kelola pemerintahan desa, pengelolaan data pertanian, hingga peningkatan kualitas layanan publik bagi masyarakat.
Dengan potensi pertanian yang dimiliki dan komitmen pemerintah daerah terhadap transformasi digital, Takalar dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat pembelajaran agroekologi sekaligus model desa digital yang berdaya saing di Sulawesi Selatan.
Bupati Takalar menyambut positif inisiatif tersebut dan menyatakan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan program yang dinilai sejalan dengan agenda pembangunan pertanian dan transformasi desa di daerahnya.
“Kami menyambut baik rencana pengembangan Simpul Wilayah dan Kawasan Pendidikan Agroekologi ini. Ke depan, kita akan kumpulkan OPD terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), serta dinas teknis lainnya agar program agroekologi ini bisa berjalan beriringan dengan program digitalisasi desa kita,” ujar Bupati Takalar, Jumat 19 Juni 2026.
Armin Salassa ditunjuk menahkodai program Kemitraan agroekologi ini.
Ia menekankan bahwa rencana pembentukan kawasan pendidikan agroekologi itu akan diawali dengan berbagai agenda lanjutan, termasuk workshop perencanaan yang melibatkan berbagai pihak terkait guna menyusun peta jalan pengembangan kawasan secara komprehensif. Langkah ini menjadi fondasi awal dalam mewujudkan ekosistem pertanian modern yang memadukan inovasi, pendidikan, dan teknologi digital.
Sejumlah agenda strategis disepakati sebagai langkah awal implementasi program antara lain pelaksanaan workshop perencanaan, program pelatihan dan pendampingan bagi petani lokal, dan integrasi program agroekologi dengan program Digitalisasi Desa.
***
















