Inpopedia, Bandung, Dalam acara bertajuk “Dari Riset Jadi Aset: Saat Ide Menjadi Kekuatan Ekonomi”, Prof. Stella Christie, Ph.D. menegaskan bahwa kekuatan sebuah bangsa dalam menguasai dunia bukan hanya terletak pada pasar, tetapi pada sistem yang mampu melahirkan inovasi.
Di hadapan civitas akademika dan jajaran pemerintah, Prof. Stella menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini menjadi negara paling unggul dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) karena memiliki sistem yang mendukung lahirnya inovasi besar.
“Yang membedakan kita adalah sistem. Kalau kita terus berpikir secara dikotomi, seperti riset versus pasar atau teori versus praktik, maka kita akan sulit maju dan bersaing,” ujarnya.
Menurutnya, ada dua kategori penting dalam inovasi, yakni merespons pasar dan memimpin pasar. Memimpin pasar dinilai jauh lebih sulit karena membutuhkan kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Prof. Stella mencontohkan lahirnya industri AI yang awalnya tidak memiliki pasar maupun kebutuhan. Semua itu berawal dari pertanyaan filsafat sederhana: “Apakah mesin bisa berpikir?” yang kemudian berkembang menjadi dasar lahirnya ilmu komputer modern.
Ia menekankan bahwa inovasi besar hanya dapat lahir jika seluruh disiplin ilmu saling terhubung dan berdialog satu sama lain.
“Kalau ilmu hanya berjalan sendiri-sendiri, kita akan terus berputar di tempat dan sulit menghasilkan sesuatu yang baru,” katanya.
Dalam paparannya, Prof. Stella juga menyoroti peran kampus sebagai pusat utama lahirnya inovasi dunia. Ia menyebut banyak perusahaan teknologi besar lahir dari riset perguruan tinggi, termasuk Google yang berasal dari penelitian mahasiswa kampus.
Menurutnya, dosen, peneliti, dan mahasiswa memiliki keunggulan karena mempunyai waktu untuk berpikir jangka panjang, sesuatu yang sulit dilakukan oleh industri maupun pemerintah yang dituntut bergerak cepat.
Karena itu, ia menilai kebebasan intelektual dan kebebasan finansial menjadi dua hal penting untuk mendorong lahirnya inovasi.
“Kebebasan berpikir hanya bisa tumbuh jika ada kebebasan finansial. Ini yang terus kami dorong melalui berbagai kebijakan di kementerian,” jelasnya.
Prof. Stella juga memperkenalkan dashboard riset nasional yang dapat diakses publik untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan para peneliti di seluruh Indonesia. Melalui sistem tersebut, masyarakat maupun industri dapat mencari peneliti, produk riset, hingga inovasi yang siap dikembangkan.
Menutup paparannya, Prof. Stella mengajak seluruh pihak untuk terus memperjuangkan kebebasan akademik agar kampus Indonesia mampu menjadi motor penggerak inovasi nasional.
“Indonesia memiliki potensi besar. Kampus, dosen, peneliti, dan mahasiswa harus menjadi kekuatan utama dalam memimpin pasar melalui inovasi,” pungkasnya. Rojak
















