Inpopedia, Bandung, Pengamat filsafat dan intelektual publik Rocky Gerung menyoroti pentingnya koneksi antara dunia akademik dan industri dalam pengembangan riset dan hak kekayaan intelektual pada diskusi “Dari Riset Jadi Aset: Saat Ide Menjadi Kekuatan Ekonomi” di Institut Teknologi Bandung.
Dalam forum tersebut, Rocky menilai langkah Kementerian Hukum Republik Indonesia untuk memberikan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual merupakan langkah penting, namun harus dibarengi dengan upaya menghubungkan hasil riset kampus dengan dunia industri.
“Jangan sampai para akademisi berada di sisi yang lain sementara industri tidak pernah terkoneksi dengan mereka. Semua paten yang didaftarkan harus sampai ke industri dan memberi manfaat nyata,” ujarnya.
Rocky juga menyebut kampus sejatinya dibangun sebagai ruang pertarungan gagasan dan pencarian solusi, bukan sekadar menghasilkan teori tanpa implementasi.
“Kampus didesain untuk bertengkar menghasilkan jalan keluar, bukan sekadar menghasilkan dalil. Pikiran harus diuji dan diperdebatkan agar melahirkan inovasi,” katanya.
Ia menilai Kota Bandung memiliki sejarah panjang sebagai pusat lahirnya pemikiran besar di Indonesia. Menurutnya, Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tetapi juga ruang lahirnya gagasan dan inovasi.
“Hari ini Bandung berubah menjadi lautan pikiran. Dari sinilah ide-ide besar bisa lahir dan berkembang,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Rocky menekankan bahwa riset, paten, dan produk industri merupakan satu rantai yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, tidak mungkin lahir paten tanpa riset, dan tidak mungkin riset berkembang jika kampus kehilangan kebebasan berpikir.
“Tidak mungkin ada paten sebelum ada riset. Tidak mungkin ada riset kalau kampus kehilangan tradisi berpikir kritis,” tegasnya.
Rocky juga menyoroti pentingnya etika dalam pengembangan teknologi dan inovasi. Ia menyebut teknologi harus tetap berpijak pada nilai moral agar tidak berubah menjadi ancaman bagi manusia.
Selain Rocky Gerung, forum tersebut juga menghadirkan pengamat ekonomi dan bisnis Gita Wirjawan yang bergabung secara virtual dari Amerika Serikat.
Dalam pemaparannya, Gita Wirjawan menegaskan pentingnya investasi pendidikan, penguatan talenta sains dan teknologi, serta peningkatan jumlah paten nasional untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.
Ia membandingkan Indonesia dengan Tiongkok yang mampu mendaftarkan hingga 1,8 juta paten dalam satu tahun, sementara Asia Tenggara selama 20 tahun terakhir baru mencapai kurang dari 300 ribu paten.
“Indonesia sangat mungkin menghasilkan ratusan ribu paten jika investasi pendidikan, riset, dan kualitas sumber daya manusia terus diperkuat,” ujarnya.
Gita juga menekankan pentingnya koneksi antara universitas dan dunia usaha agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan berkembang menjadi produk dan inovasi industri yang bernilai ekonomi.
Diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Rojakul
















