Inpopedia.co.id, Jakarta, 30 Juni 2026 — Aktivitas publikasi dan ekshibisi Animalium di sejumlah lokasi di luar kawasan BRIN Cibinong, Jawa Barat, menjadi sorotan terkait kesesuaiannya dengan konsep awal pendirian wahana wisata edukasi dan pusat riset satwa tersebut.
Tim media yang mengunjungi Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, pada Sabtu (27/6/2026), bertemu dengan Hania Chusni, salah satu anggota tim edukasi Animalium. Dalam pertemuan tersebut, tim media memperoleh informasi mengenai sejumlah kegiatan publikasi dan ekshibisi yang dilakukan tim edukasi Animalium di beberapa lokasi di luar kawasan Animalium pada hari yang sama.
Sebelumnya, informasi mengenai agenda liputan dan wawancara telah dikomunikasikan melalui nomor kontak yang tercantum pada Google Maps Animalium. Dalam komunikasi awal, pihak Animalium menyampaikan bahwa koordinasi dapat dilakukan melalui bagian komunikasi pemasaran (Marcomm).
Namun, saat dikonfirmasi di lokasi, Hania menyampaikan bahwa dirinya belum memiliki kewenangan untuk memberikan keterangan terkait struktur komunikasi publik Animalium. Ia juga menyebut belum terdapat pihak komunikasi pemasaran yang dapat memberikan penjelasan resmi.
Pertanyaan mengenai lokasi ekshibisi, tim edukasi yang bertugas, serta mekanisme kegiatan tersebut, menurut Hania, harus disampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan lebih besar dan menunggu penunjukan juru bicara secara internal.
Kegiatan di luar kawasan Animalium tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan konsep awal pendirian wahana tersebut. Dalam peresmian Animalium pada 5 Juli 2023, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyebut Animalium sebagai wahana wisata edukasi sekaligus pusat riset untuk observasi hewan hidup di bawah naungan BRIN yang bersifat komersial.
Aktivitas Eksternal Animalium
Berdasarkan penelusuran melalui akun media sosial Animalium dan sejumlah sumber lainnya, tim media menemukan beberapa kegiatan ekshibisi dan publikasi yang dilakukan di luar kawasan BRIN Cibinong, Bogor.
Beberapa kegiatan yang teridentifikasi antara lain:
1. Stan Animalium dalam kegiatan Kontes Harmoni Reptile pada 6–7 Juni 2026 di Ciseeng, Bogor.
2. Program edukasi Animalium dan keberadaan kebun binatang mini yang berlangsung pada 20, 21, 27, dan 28 Juni 2026 di salah satu kafe di Bogor.
3. Stan kebun binatang mini dan penjualan suvenir Animalium di Yogya Cimanggu Avenue, Bogor. Kegiatan tersebut diketahui telah berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan dikunjungi tim media pada Sabtu (27/6/2026).
4. Stan Animalium dalam Festival Flora dan Fauna (FLONA) Kota Bogor di Taman Heulang pada 25–27 Juni 2026.
Dugaan Konflik Kepentingan
Dari sejumlah kegiatan tersebut, muncul dugaan adanya konflik kepentingan yang melibatkan staf Animalium berinisial RP yang ditugaskan mengawal kegiatan edukasi dan ekshibisi.
Berdasarkan keterangan narasumber, salah satu persoalan muncul dalam kegiatan Kontes Harmoni Reptile. RP disebut turut menjadi peserta kontes dan memperoleh penghargaan juara kedua berupa piagam serta sejumlah uang.
Dalam kegiatan tersebut, menurut salah satu peserta berinisial D, Animalium dan sejumlah komunitas hewan yang memasang logo dalam materi publikasi acara turut berkontribusi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Selain itu, pada kegiatan edukasi Animalium di salah satu kafe di Bogor, RP disebut memiliki usaha pribadi di bidang pengadaan hewan. Narasumber menyebut adanya dugaan keterlibatan jaringan pertemanan dan komunitas dalam pengadaan kebun binatang mini komersial untuk kegiatan tersebut.
RP juga diduga mengarahkan BA, pedagang hewan di Cigombong, Bogor, untuk mengisi kebun binatang mini pada kegiatan tersebut menggantikan penyedia yang sebelumnya telah tersedia.
Transparansi Pembiayaan Dipertanyakan
Hingga kini, mekanisme pembiayaan berbagai kegiatan ekshibisi Animalium tersebut belum memperoleh penjelasan resmi.
Belum diketahui apakah biaya pemenangan kontes, pengadaan kebun binatang mini, maupun kebutuhan lain termasuk undangan pengisi acara ditanggung secara resmi melalui manajemen Animalium atau melalui staf dan tim edukasi yang bertugas di lapangan.
Pihak Animalium juga belum memberikan informasi mengenai skema pendanaan kegiatan eksternal tersebut, apakah berupa kegiatan bersponsor, pembiayaan penuh oleh Animalium, atau terdapat kontribusi dari pihak penyelenggara lokasi kegiatan.
Klarifikasi resmi dari pihak Animalium terkait tata kelola kegiatan publikasi, ekshibisi, serta mekanisme pembiayaan masih dinantikan untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai aktivitas di luar kawasan BRIN tersebut.
(RZ)
















