Inpopedia, Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (1/6) pagi dan berada di level Rp17.844 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini turun 37 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia seperti yen Jepang, baht Thailand, yuan China, peso Filipina, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong juga mengalami penurunan terhadap dolar AS. Mata uang negara-negara maju seperti euro, poundsterling Inggris, franc Swiss, dolar Australia, dan dolar Kanada juga bergerak di zona negatif.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan hubungan AS dan Iran yang belum menunjukkan kepastian. Selain itu, pelaku pasar juga masih menunggu rilis data penting ekonomi Indonesia, seperti inflasi dan neraca perdagangan.
Menurutnya, penurunan harga minyak dunia berpotensi memberikan sentimen positif bagi rupiah. Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kebutuhan dolar AS di dalam negeri sedang meningkat, terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen perusahaan.
Di sisi lain, arus masuk dolar AS ke pasar domestik masih relatif terbatas sehingga turut menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah dan instrumen intervensi di pasar keuangan guna meredam gejolak yang terjadi.
Melemahnya rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri, namun Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar agar kondisi tetap terkendali.*
















