Inpopedia, LEBAK – Di kaki pegunungan yang membentang di Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, terdapat sebuah kampung adat yang masih menjaga warisan budaya leluhur hingga kini, yakni Kampung Kasepuhan Cipinang.
Kampung ini merupakan bagian dari masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul yang dikenal memegang teguh adat istiadat, sistem pertanian tradisional, serta filosofi hidup yang menyatu dengan alam.
Kasepuhan ini dipimpin oleh Abah Juanda yang sering disapa Olot Juan yang merupakan generasi ke 5 Kasepuhan Cipinang. Ia memimpin masyarakatnya dengan nilai-nilai luhur yang berbasis keharmonisan alam, manusia dan Tuhan.

Salah satu filosopi yang dipegang masyarakat adalah bahwa jangan melanggar 3 hal dalam kehidupan yakni pertama aturan yang diamanatkan oleh leluhur, kedua, aturan agama dan ketiga hukum negara.
“Buhun kudu disukun, agama kudu diraksa tur dijaga dan nagara kudu ditata,” ungkap Abah.
” Tilu sapamulu, dua saka rupa nu hiji eta keneh” artinya ”Tiga sejenis, dua yang serupa, satu yang itu-itu juga,” imbuhnya.
Menurut Abah Juanda, nilai-nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta pengelolaan hasil bumi secara arif menjadi identitas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat dipimpin dengan nilai-nilai luhur dan keteladanan menuju kesejahteraan bersama.
Padi Bukan Sekadar Makanan
Bagi masyarakat Kasepuhan Cipinang, padi bukan hanya komoditas pertanian, melainkan simbol kehidupan. Mereka memperlakukan padi sebagai titipan yang harus dihormati sejak masa tanam hingga penyimpanan.

Total terdapat 17 prosesi adat yang dilakukan dari mulai mempersiapkan lahan dan benih padi hingga sampai ke Lumbung padi. Semua prosesi tersebut disanding dengan kegiatan ritual, doa dan penentuan hari baik.
Karena itu, masyarakat tetap mempertahankan leuit atau lumbung padi tradisional sebagai tempat menyimpan hasil panen. Padi tidak dijual seluruhnya, tetapi sebagian disimpan sebagai cadangan pangan keluarga dan masyarakat. Sistem ini terbukti menjaga ketahanan pangan masyarakat adat selama bertahun-tahun.
Seren Taun, Wujud Syukur kepada Sang Pencipta
Salah satu tradisi terpenting masyarakat adat adalah Seren Taun, upacara adat sebagai ungkapan syukur atas panen padi.
Dalam tradisi ini, hasil panen diarak menuju leuit adat melalui prosesi yang sakral, diiringi doa-doa, kesenian tradisional, dan kebersamaan warga. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan antarwarga kasepuhan di Banten Kidul.
Hidup Selaras dengan Alam
Keunikan lain Kampung Kasepuhan Cipinang adalah cara masyarakat menjaga lingkungan. Mereka memiliki aturan adat mengenai pemanfaatan hutan, mata air, dan lahan pertanian. Penebangan pohon maupun pembukaan lahan dilakukan berdasarkan ketentuan adat agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Prinsip yang mereka pegang sederhana: alam harus diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan tetap lestari, bukan dieksploitasi demi keuntungan sesaat.
Rumah Adat yang Sederhana
Imah Gede, rumah adat tempat olot atau tetua Kasepuhan Cipinang tinggal bersama keluarga masih mempertahankan bentuk tradisional berbahan kayu, bambu, dan atap alami. Bangunannya dirancang mengikuti kondisi alam pegunungan sehingga tetap nyaman tanpa banyak bergantung pada teknologi modern.
Suasana kampung yang asri, jalan setapak, hamparan sawah, serta udara pegunungan menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan masyarakat adat secara langsung.
Budaya yang Masih Hidup
Beberapa tradisi yang masih dijaga masyarakat antara lain:
Musyawarah adat yang dipimpin para sesepuh.
Gotong royong dalam mengolah sawah dan membangun rumah dan membuat panganan khas seperti dodol.
Pelestarian bahasa Sunda Banten dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan kalender adat untuk menentukan musim tanam dan panen.
Penghormatan kepada leluhur melalui berbagai ritual adat sesuai ketentuan kasepuhan.
Potensi Wisata Budaya
Kampung Kasepuhan Cipinang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya berbasis masyarakat. Pengunjung dapat menyaksikan langsung aktivitas bertani tradisional, melihat leuit adat, menikmati panorama perbukitan Cilograng, hingga mengikuti kegiatan budaya apabila datang bertepatan dengan pelaksanaan Seren Taun.
Nilai yang Relevan untuk Masa Kini
Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis pangan global, sistem kehidupan masyarakat Kasepuhan Cipinang menawarkan pelajaran penting tentang kemandirian pangan, pelestarian lingkungan, dan kehidupan yang harmonis dengan alam. Tradisi yang mereka wariskan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan praktik nyata yang masih relevan untuk menjawab tantangan masa depan.








