Oleh: Moh. Hatta Tahir
Tutor PKBM ALIF Jakarta
Di era media sosial, kita seolah dituntut memiliki pendapat tentang semua hal. Mulai dari konflik internasional, dinamika politik nasional, polemik hukum, hingga berbagai isu yang setiap hari memenuhi linimasa. Akibatnya, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam berdebat, marah, cemas, bahkan kehilangan ketenangan, padahal tidak ada satu pun dari persoalan itu yang dapat mereka ubah secara langsung.
Di sinilah pentingnya memahami dua lingkaran dalam kehidupan manusia, yaitu lingkaran peduli (Circle of Concern) dan lingkaran pengaruh (Circle of Influence).
Memahami Dua Lingkaran Kehidupan
Konsep ini diperkenalkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People.
Menurut Covey, setiap orang memiliki dua area perhatian.
Pertama, lingkaran peduli (Circle of Concern). Di dalamnya terdapat berbagai hal yang kita pikirkan atau pedulikan, tetapi berada di luar kendali kita. Misalnya konflik Iran-Israel, kebijakan Amerika Serikat, dinamika politik nasional, polemik ijazah palsu, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pergantian pejabat, hingga berbagai perdebatan yang setiap hari menjadi tren di media sosial.
Kita boleh mengetahui isu-isu tersebut sebagai warga negara yang baik. Namun, jika seluruh energi, emosi, dan waktu kita habis untuk memperdebatkannya, sementara kita tidak memiliki kemampuan mengubah hasilnya, maka yang muncul justru rasa frustrasi, marah, dan kelelahan mental.
Kedua, lingkaran pengaruh (Circle of Influence). Inilah wilayah yang benar-benar bisa kita kendalikan dan pengaruhi.
Misalnya:
✓menjaga kesehatan tubuh;
✓memperbaiki hubungan dengan pasangan, anak, dan keluarga;
✓meningkatkan kompetensi diri;
✓memilih teman bergaul yang positif;
✓menentukan buku yang dibaca;
✓memilih kopi yang diminum atau makanan yang lebih sehat;
✓menentukan tempat untuk beristirahat atau healing;
✓mengelola keuangan;
✓membantu tetangga atau masyarakat sekitar;
✓menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bermanfaat.
Semua hal tersebut berada dalam kendali kita.
Mengapa Banyak Orang Mudah Stres?
Media sosial dirancang agar perhatian kita terus tertuju pada berbagai isu yang viral. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk mengomentari kehidupan orang lain daripada memperbaiki kehidupannya sendiri.
Ironisnya, semakin banyak energi dicurahkan pada lingkaran peduli, semakin sedikit energi yang tersisa untuk lingkaran pengaruh.
Inilah yang memicu overthinking, kecemasan, emosi yang mudah meledak, produktivitas menurun, bahkan gangguan kesehatan mental.
Padahal, kehidupan seseorang tidak berubah hanya karena memenangkan debat di kolom komentar.
Sebaliknya, hidup akan berubah ketika ia memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
Fokuslah pada yang Bisa Diubah
Orang-orang yang bahagia umumnya bukan mereka yang mengetahui semua isu, melainkan mereka yang mampu mengelola hidupnya dengan baik.
Mereka sadar bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas.
Daripada menghabiskan tiga jam berdebat tentang persoalan yang tidak bisa diubah, lebih baik waktu tersebut digunakan untuk berolahraga, membaca buku, belajar keterampilan baru, bercengkerama dengan keluarga, atau berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang berada dalam kendali kita.
Lingkaran Pengaruh yang Terus Membesar
Menariknya, ketika seseorang konsisten memperkuat lingkaran pengaruhnya, pengaruhnya terhadap orang lain justru akan semakin besar.
✓Guru yang terus belajar akan memengaruhi murid-muridnya.
✓Orang tua yang menjadi teladan akan membentuk karakter anak-anaknya.
✓Pemimpin yang disiplin akan menginspirasi organisasinya.
✓Penulis yang menghasilkan karya berkualitas akan memengaruhi pembacanya.
Semua perubahan itu lahir bukan dari kemarahan di media sosial, melainkan dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
So,
Peduli terhadap kondisi bangsa dan dunia tentu penting. Namun, jangan sampai kepedulian berubah menjadi beban yang menguras energi tanpa menghasilkan perubahan nyata.
Bijaksanalah membedakan mana yang sekadar menjadi perhatian dan mana yang benar-benar dapat kita pengaruhi.
Sebab pada akhirnya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak isu yang kita komentari, tetapi oleh seberapa baik kita mengelola diri, keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sekitar.
Jadi, jika akhir-akhir ini Anda merasa mudah stres karena media sosial, mungkin saatnya menggeser fokus. Kurangi energi untuk lingkaran peduli, perbesar energi pada lingkaran pengaruh. Di sanalah ketenangan, kesehatan, dan produktivitas bertumbuh.
Note : Artikel ini berlandaskan pada beberapa konsep ilmiah dan pengembangan diri yang saling berkaitan:
Circle of Concern & Circle of Influence – Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People. Konsep ini menjelaskan bahwa orang yang efektif memusatkan energi pada hal-hal yang dapat mereka pengaruhi, bukan pada hal-hal yang berada di luar kendali.
Locus of Control oleh Julian B. Rotter. Teori ini menunjukkan bahwa individu yang berfokus pada aspek-aspek yang dapat mereka kendalikan cenderung lebih resilien, optimistis, dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
Cognitive Behavioral Therapy dalam psikologi modern, yang mengajarkan bahwa kita tidak selalu dapat mengendalikan peristiwa, tetapi kita dapat mengendalikan cara berpikir, merespons, dan bertindak terhadap peristiwa tersebut.
Ketiga konsep tersebut mengajarkan pesan yang sama: energi mental adalah sumber daya yang terbatas. Gunakan untuk hal-hal yang dapat menghasilkan perubahan nyata dalam hidup, bukan semata-mata untuk persoalan yang berada di luar kendali kita.***
















