Oleh : M.Adhie Pamungkas
Ketika melihat sebuah masjid, sebagian besar orang akan langsung mengenali dua unsur arsitektur yang paling menonjol: kubah dan menara. Menariknya, banyak orang mengira bahwa kedua elemen tersebut merupakan bagian asli dari ajaran Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Padahal, secara historis, baik kubah maupun menara adalah hasil interaksi dan dialog peradaban yang panjang.
Pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di Madinah dibangun dengan sangat sederhana. Tidak terdapat kubah maupun menara seperti yang kita kenal sekarang. Kubah mulai berkembang dalam arsitektur Islam melalui pengaruh tradisi Romawi dan Bizantium, sedangkan menara memperoleh bentuk dan fungsinya melalui interaksi dengan berbagai tradisi arsitektur di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Fakta sejarah ini mengandung pelajaran penting: peradaban Islam tumbuh bukan dengan menolak perbedaan, tetapi dengan menyerap, mengolah, dan memuliakan berbagai unsur budaya yang tidak bertentangan dengan nilai tauhid. Islam tidak menghapus keberagaman budaya, melainkan memberikan ruh dan makna baru yang lebih luhur.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa keberagaman merupakan kehendak Allah SWT. Firman-Nya:
«”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).»
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sarana untuk membangun saling pengertian dan kerja sama. Rasulullah SAW juga memberikan teladan melalui kehidupan bermasyarakat yang menghargai keragaman suku, budaya, dan agama.
Dalam konteks Indonesia, kubah dan menara masjid dapat dimaknai sebagai simbol toleransi dan keterbukaan. Bentuk masjid di Nusantara pun sangat beragam: ada yang berkubah Timur Tengah, beratap tumpang khas Jawa, bercorak Minangkabau, hingga mengadopsi unsur arsitektur modern. Semua itu menunjukkan bahwa identitas Islam tidak ditentukan oleh satu bentuk budaya tertentu, melainkan oleh nilai-nilai ketakwaan, persaudaraan, dan kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya polarisasi dan konflik identitas di berbagai belahan dunia, kubah dan menara masjid seolah mengajarkan sebuah pesan sederhana namun mendalam: bahwa perbedaan tidak selalu harus dihapuskan, tetapi dapat dirangkai menjadi harmoni yang indah.
Dengan demikian, kubah dan menara bukan sekadar elemen bangunan. Keduanya adalah simbol perjumpaan peradaban, penghormatan terhadap keberagaman, dan pengingat bahwa toleransi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai dan beradab.
















