Inpopedia, BANTEN KIDUL — Alunan musik tradisional yang ritmis berpadu syahdu dengan kehangatan riuh warga di Kasepuhan Cipinang awal Juli 2026.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan adat, Abah Juanda, Kepala Adat Kasepuhan Cipinang, duduk tenang menceritakan esensi terdalam dari ritual tahunan yang telah mengakar selama ratusan tahun di bumi Banten Kidul, Seren Taun.
Lebih dari sekadar pesta panen tetapi sebuah episentrum atau pusat spiritualitas, gotong royong, dan ikatan kebangsaan yang tidak lekang oleh zaman.
Menyerahkan Masa Lalu, Mensyukuri Hari Ini
Secara harfiah, Abah Juanda yang kerap disapa atau Olot Juan menjelaskan bahwa kata “Seren” memiliki arti menyerahkan. Ritual ini merupakan simbol penyerahan hasil bumi dan kilas balik perjuangan bertani dari tahun yang telah lalu kepada Sang Pencipta.
“Makna daripada Seren Taun itu adalah mensyukuri nikmat yang datang dari Tuhan,” ujar Abah dengan nada yang sarat akan kebijaksanaan.
Tradisi turun-temurun ini telah berjalan selama ratusan tahun. Di Kasepuhan Cipinang sendiri, Abah merupakan generasi kelima dari garis nenek moyang yang konsisten menjaga api tradisi ini tetap menyala.
Bagi warga kasepuhan, Seren Taun adalah ruang di mana yang tidak kenal menjadi kenal, dan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu—sebuah jembatan yang memperkuat tali silaturahmi dan mengikat erat persaudaraan.
Sarendeuk Saigel: Harmoni Tanpa Sekat
Menjelang puncak acara, Kasepuhan Cipinang berubah menjadi lautan gotong royong. Ada pembagian tugas yang begitu presisi namun dilakukan dengan penuh sukacita (guyub). Mulai dari warga yang menyambut tamu, menyiapkan perlombaan olahraga, mencari daun dan kayu bakar, hingga ibu-ibu yang kompak membuat kue dan memasak bersama.
Filosofi ini dirangkum indah oleh Abah dalam pepatah kolot:
“Artinya itu kerja bareng, satu ikatan. Cuman ada yang ngatur, ada ketuanya,” jelas Abah.
Kebersamaan inilah yang membuat ikatan sosial di kasepuhan begitu kental dan kokoh. Sebelum hari puncak, ritual sakral seperti ziarah makam leluhur, tradisi balik taun (menelusuri silsilah garis keturunan), doa bersama, hingga zikir syukur atas berkah hasil tani dilakukan dengan khidmat.
Pilar “Muhun, Agung, Nagara” dan Keadilan yang Sama
Salah satu daya tarik kuat dari Kasepuhan Cipinang adalah sebuah pesan bijak yang terpampang pada banner utama mereka: “Muhun kudu disuhun, Agama kudu dijaga, Nagara kudu ditata.”
Abah membedah filosofi ini dengan sangat dalam. “Buhun kudu disuhun” berarti menghormati dan tidak melanggar apa yang telah diamanahkan oleh para leluhur agar terhindar dari hukum alam atau kualat/. Sementara itu, Agama kudu diraksa dan dijaga bermakna menjaga kesucian keyakinan agar tidak dijadikan main-main, dan Nagara kudu ditata berarti kepatuhan pada aturan pemerintah.
Menariknya, Abah melihat adanya irisan yang sama antara hukum adat, agama, dan negara: Dalam hukum Adat, hal yang dilarang disebut Pamali. Dalam hukum Agama/, hal yang dilarang disebut Haram. Dalam hukum Negara, hal yang dilarang akan Dihukum.
“Tilu sapanyaur, dua sakalupa, nu hiji eta-eta keneh (Tiga ucapan, dua kelupaan, yang satu itu-itu juga). Walaupun berbeda bahasa, tapi tujuannya sama,” tegas Abah.
Sinergi Sara, Nagara, dan Mokaha
Melalui jargon utamanya—Sara (Agama), Nagara (Pemerintah), dan Mokaha (Keselamatan)—Kasepuhan Cipinang membuktikan bahwa adat tidak pernah bertentangan dengan agama maupun hukum negara. Kehadiran para pejabat daerah dan anggota DPRD dalam perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemangku adat dan pemerintah berjalan beriringan demi mencapai satu tujuan akhir: keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Seren Taun di Kasepuhan Cipinang adalah potret sempurna bagaimana sebuah bangsa bisa bergerak maju ke masa depan tanpa harus kehilangan jati diri dan akar budayanya.***
















