Inpopedia, Karawang – Di sebuah sudut Kampung Pasir Malang, RT 01 RW 018, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, kehidupan sepasang lansia berjalan dalam kesunyian dan keterbatasan. Di usia yang seharusnya menjadi masa menikmati hari tua dengan tenang, Abah Sapdi (67) dan istrinya, Emak Maryati (66), justru harus berjuang keras demi menyambung hidup dari hari ke hari.
Rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Sebagian atapnya bocor sehingga air hujan mudah masuk saat musim penghujan tiba. Sebagian bangunan lainnya bahkan merupakan bekas kandang kambing yang disulap menjadi tempat berteduh. Dinding yang mulai rapuh dan kondisi bangunan yang memprihatinkan menjadi saksi bisu perjuangan pasangan lansia tersebut menghadapi kerasnya kehidupan.
Setiap pagi, Abah Sapdi dan Emak Maryati masih berusaha mencari penghasilan meski kondisi fisik mereka tidak lagi sekuat dulu. Mereka mencari keong sawah, mengumpulkan genjer, serta eceng gondok untuk dijual. Hasilnya tak seberapa, namun cukup menjadi harapan agar dapur tetap bisa mengepul.
Kesulitan ekonomi yang mereka alami telah berlangsung cukup lama. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, pasangan ini kerap mengalami kekurangan. Saat musim panen padi tiba, mereka terkadang hanya bisa memungut sisa-sisa bulir padi yang tertinggal di sawah setelah proses panen selesai. Padi-padi yang tercecer itu menjadi salah satu sumber makanan yang dapat mereka andalkan.
Kondisi tersebut perlahan berdampak pada kesehatan keduanya. Beban pekerjaan yang berat di usia lanjut, ditambah minimnya asupan gizi dan keterbatasan akses pengobatan, membuat Abah Sapdi dan Emak Maryati sering jatuh sakit. Namun keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak selalu dapat memperoleh penanganan medis yang memadai.
Kisah pasangan lansia ini menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di tengah perkembangan daerah. Kehidupan Abah Sapdi dan Emak Maryati seolah mengingatkan bahwa masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian lebih dari berbagai pihak.
Harapan besar kini tertuju kepada pemerintah daerah, instansi terkait, serta para dermawan agar dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan, mulai dari perbaikan rumah layak huni, bantuan kebutuhan pokok, hingga pelayanan kesehatan yang memadai bagi pasangan lansia tersebut.
Lebih dari sekadar angka statistik kemiskinan, Abah Sapdi dan Emak Maryati adalah wajah kemanusiaan yang mengajarkan tentang ketabahan. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, keduanya tetap berusaha bertahan hidup dengan penuh kesabaran.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Sebab, di balik dinding rumah yang rapuh dan atap yang bocor itu, ada harapan yang masih menunggu untuk diperjuangkan bersama.
Penulis: Nesin Sasmi
















