Inpopedia, TAKALAR — Ketua Wahdah Islamiyah Takalar memaparkan sejarah berdirinya organisasi tersebut serta kiprahnya dalam bidang dakwah, pendidikan dan sosial kemanusiaan dalam podcast Humas Pemkab Takalar, Selasa (15/9/2026).
Dalam talkshow bertema “Wahdah Maslahat untuk Takalar” yang disiarkan melalui SlibeFM Takalar, narasumber H. Ketua Wahdah Islamiyah Takalar, Mannaungi, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa Wahdah Islamiyah memiliki sejarah panjang dalam perjalanan dakwah Islam di Indonesia.
Menurut pria yang kerap disapa Daeng Tompo ini, Wahdah Islamiyah lahir pada 18 Juni 1988, yang pada awal berdirinya menggunakan nama Yayasan Fathul Muin (YFM) di Makassar Sulawesi Selatan.
Organisasi tersebut kemudian mengalami transformasi dan berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam pada 2002.
“Pada tahun 2002, Wahdah Islamiyah bertransformasi menjadi organisasi kemasyarakatan Islam. Pada tahun yang sama, keberadaannya juga mulai hadir di Takalar,” ujar Mannaungi dalam podcast tersebut.
Ia menjelaskan, sejak hadir di Takalar, Wahdah Islamiyah membawa visi dakwah yang salah satunya diwujudkan melalui bidang pendidikan. Lembaga pendidikan yang dikembangkan mencakup berbagai jenjang, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
“Pendidikan kita mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Di Takalar, keberadaan pendidikan Wahdah antara lain ada di wilayah Sompu dan Galesong,” katanya.
Selain pendidikan, lanjut Mannaungi, Wahdah Islamiyah juga menjalankan aktivitas dakwah yang mengedepankan pendekatan bersahaja sehingga dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Ia menyebut pendekatan tersebut terutama mendapat respons positif dari kalangan ibu-ibu yang menjadi salah satu kelompok masyarakat yang aktif mengikuti kegiatan dakwah.
“Dakwah dilakukan dengan cara yang bersahaja dan bisa diterima masyarakat luas, khususnya kaum ibu,” jelasnya.
Mannaungi menambahkan, kiprah Wahdah Islamiyah tidak hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan dan pendidikan. Organisasi tersebut juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurut dia, keberadaan organisasi harus mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan pendidikan, dakwah maupun sosial kemanusiaan.
Melalui tema “Wahdah Maslahat untuk Takalar”, Mannaungi berharap keberadaan Wahdah Islamiyah dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pembangunan daerah, khususnya melalui penguatan pendidikan, dakwah serta kegiatan sosial kemanusiaan.















