Inpopedia.co.id, Jakarta, 10 September 2026 — Ancaman predator anak dibawa ke ruang publik oleh film Memburu Pemangsa. Bukan sekadar menghadirkan teror di layar bioskop, film produksi Sinemaku Pictures ini menggerakkan kampanye #JagaAnakAnak yang melibatkan sekitar 3.000 siswa hingga warga Blok M.
Menjelang penayangannya pada 24 September 2026, Memburu Pemangsa menggelar kampanye #JagaAnakAnak Goes to School. Dalam dua hari, kampanye tersebut menyambangi SMK Pustek Serpong dan SMAN 2 Kota Serang.
Para siswa tidak hanya diajak menonton atau mendengarkan sosialisasi. Edukasi mengenai perlindungan anak dikemas melalui talkshow dan permainan interaktif agar pesan tentang pentingnya menjaga diri serta lingkungan lebih dekat dengan generasi muda.
Sutradara Memburu Pemangsa, Umay Shahab, turut hadir bersama Taskya Namya dan Sadam Permana, tokoh muda yang dikenal melalui konten edukasi di media sosial.
Umay mengungkapkan, keresahan terhadap kekerasan yang menimpa anak telah mendorongnya mengangkat isu tersebut melalui film.
“Kementerian PPPA mencatat 35.920 kasus kekerasan perempuan dan anak sepanjang 2025. Kasus-kasus ini banyak terjadi di ruang terdekat anak,” ujar Umay Shahab.
Bagi Umay, persoalan tersebut bukan sekadar materi cerita. Ia mengaku pernah melihat anak-anak seusianya menjadi korban kekerasan ketika masih kecil.
“Ketika saya kecil pun, banyak melihat anak-anak seumuran saya yang menjadi korban dari kekerasan para penjahat. Itu yang membuat kenapa saya merasa penting, saat memiliki kesempatan, membuat film yang menjadi keresahan saya dan banyak orang. Dan cerita serta isu sepenting ini belum ada yang mengangkatnya,” tambahnya.
Laura Basuki: Jangan Salahkah Anak
Gebrakan Memburu Pemangsa kemudian berlanjut ke Blok M. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas anak muda Jakarta itu menjadi ruang untuk mengajak masyarakat ikut menyuarakan perlindungan terhadap anak.
Dalam talkshow yang dipandu “Gubernur Blok M” Arvino dan personel trio NPD, Niky Putra, trailer dan poster Memburu Pemangsa diperkenalkan kepada publik.
Laura Basuki, Taskya Namya, Yasamin Jasem, dan Rifnu Wikana juga hadir dalam sesi diskusi.
Laura Basuki menilai pesan film tersebut terasa dekat dengan realitas karena kejahatan terhadap anak dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
“Dari film ini saya merasa bahwa manusia itu bisa lebih keji daripada setan sebenarnya. Jadi kejahatan itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja,” ujar Laura.
Ia pun menyoroti kecenderungan menyalahkan anak ketika menjadi korban kejahatan.
“Rasanya kasihan dan miris, ketika anak-anak yang harus terus aware menjaga diri mereka. Jangan terus menerus menyalahkan ‘Oh mungkin karena dia jalan sendiri’, ‘Oh karena dia pakai baju terlalu terbuka’, ya yang dibenerin harusnya kita sebagai orang dewasa, dan orang dewasa harus ikut menjaga keamanan anak-anak,” lanjut Laura.
Pesan tersebut semakin terasa ketika para pemain Memburu Pemangsa bersama warga Blok M mengikuti permainan interaktif hasil kolaborasi dengan XSpace Indonesia.
Teror Film Dibawa ke Dunia Nyata
Tak puas hanya meneror penonton melalui layar, Memburu Pemangsa membawa pengalaman berburu ke dunia nyata.
Bersama XSpace Indonesia, Sinemaku Pictures menghadirkan pengalaman imersif di XSpace Pasaraya Blok M. Pengunjung akan diajak masuk dalam misi investigasi dan perburuan yang terinspirasi dari dunia film.
Nuansa horror-crime-action dihadirkan melalui permainan dan misi yang membuat pengunjung seolah ikut terlibat dalam perburuan.
Pengalaman imersif ini berlangsung pada 14 September hingga 11 Oktober 2026. Konsep tersebut juga memungkinkan penonton merasakan pengalaman berburu seperti empat jurnalis dalam cerita Memburu Pemangsa.
Tak berhenti di sana, kampanye #JagaAnakAnak diperluas melalui kolaborasi dengan Kopi Nako.
Sebanyak satu juta cup Kopi Nako x Memburu Pemangsa mulai hadir pada 7 September 2026 di 57 gerai Kopi Nako di berbagai wilayah Indonesia.
Pesan perlindungan anak sengaja ditempatkan pada benda yang dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Ketika diajak bekerja sama dengan Sinemaku Pictures, kami sangat tertarik karena mempunyai pesan yang sangat positif. Bagaimana menyuarakan isu tentang #JagaAnakAnak untuk bisa cepat sampai langsung ke masyarakat, yaitu dalam bentuk visual, yang disampaikan dalam sebuah cup,” ujar Chief Creative & Marketing Kanma Group Robert Wanasida.
“Terkadang, sebuah pesan yang baik bisa dimulai dari hal kecil yang kita temui sehari-hari,” lanjutnya.
Dibangun dari Riset
Di balik kisah perburuan predator anak, Memburu Pemangsa juga melakukan riset sejak tahap pengembangan cerita.
Tim produksi menggandeng Komnas Perlindungan Anak, akademisi kriminologi Universitas Indonesia, Divisi Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Kejahatan terhadap Anak (TPPO) Bareskrim Polri, serta redaksi media investigasi.
Rangkaian kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pesan film agar tidak berhenti ketika lampu bioskop menyala.
Dengan mengajak siswa, guru, warga, hingga masyarakat luas, Memburu Pemangsa ingin menjadikan isu keamanan anak sebagai perhatian bersama.
Film Memburu Pemangsa akan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. (RZ)















