Inpopedia, Wonosobo – Pernah bertanya mengapa kawasan ini disebut Dieng?
Nama Dieng dipercaya berkaitan dengan istilah Jawa Kuno “Di Hyang”, yang kerap dimaknai sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
Tak mengherankan jika dataran tinggi yang berada di Wonosobo Jawa Tengah ini sejak masa lampau dianggap memiliki nilai spiritual yang sangat kuat.
Namun, Dieng bukan sekadar kawasan wisata dengan panorama pegunungan, telaga, dan udara dingin. Di balik keindahannya, tersimpan jejak peradaban Hindu yang usianya mencapai lebih dari seribu tahun.
Di kawasan Dieng berdiri sejumlah candi Hindu yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi. Kompleks ini menjadi salah satu bukti penting perkembangan awal agama Hindu di Jawa. Para ahli memperkirakan pembangunan candi berlangsung dalam beberapa tahap.
Beberapa Candi yang kita kenal antara lain Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima. Masih ada ratusan candi yang diyakini terkubur di bawah tanah dan menunggu untuk digali.
Sementara itu, identitas pasti penguasa yang memerintahkan pembangunan seluruh candi belum sepenuhnya diketahui. Sejumlah ahli mengaitkannya dengan penguasa dari Wangsa Sanjaya pada masa awal Mataram Kuno.
Pada 1814, sejumlah candi ditemukan kembali dalam kondisi dikelilingi atau terendam genangan air. Pada abad ke-19 kemudian dilakukan upaya pengeringan dan pembersihan kawasan untuk mengungkap kembali bangunan-bangunan yang tersembunyi. Proses dokumentasi dan penelitian selanjutnya membantu membuka kembali jejak sejarah Dieng.
Yang membuatnya semakin menarik, sebuah prasasti bertarikh sekitar 808 Masehi ditemukan di kawasan Dieng. Prasasti tersebut menjadi salah satu bukti penting mengenai penggunaan aksara Jawa Kuno pada masa awal perkembangan peradaban Jawa.
Benarkah Dahulu Ada 400 Candi?
Salah satu cerita yang sering muncul tentang Dieng adalah bahwa kawasan ini dahulu memiliki sekitar 400 bangunan candi.
Angka tersebut dikaitkan dengan catatan Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke-19. Namun, sebagian besar bangunan tersebut tidak lagi terlihat karena berbagai faktor alam, perubahan lingkungan, serta aktivitas manusia selama berabad-abad.
Kini, hanya sebagian kecil bangunan yang masih dapat kita lihat.
Artinya, kawasan Dieng yang kita kenal sekarang mungkin hanyalah sebagian dari lanskap keagamaan dan kebudayaan yang pernah berkembang di tempat ini lebih dari seribu tahun lalu.
Dieng ternyata masih menyimpan banyak misteri.
Pada 2013, ditemukan sejumlah situs dan struktur yang diduga berkaitan dengan bangunan kuno di kawasan Bukit Pangonan. Salah satu temuan yang dikenal sebagai Candi Wisanggeni ditemukan oleh warga setempat yang melakukan aktivitas di kawasan Dieng. Bentuknya relatif kecil dan pada saat ditemukan bagian yang terlihat terutama berupa struktur bagian atas.
Temuan-temuan semacam ini menunjukkan bahwa penelitian arkeologi di Dieng masih menyimpan peluang untuk mengungkap lebih banyak informasi tentang kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.
Dieng Bukan Sekadar Tempat Wisata
Ketika kita berdiri di antara kabut dan candi-candi tua Dieng, sebenarnya kita sedang berada di tengah jejak sejarah yang berusia lebih dari seribu tahun.
Di balik Gunung Prau, Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan hamparan perkebunan masyarakat, terdapat cerita tentang manusia masa lalu yang membangun tempat pemujaan di dataran tinggi.
Mungkin itulah alasan Dieng selalu terasa berbeda.
Bukan hanya karena alamnya yang indah, tetapi karena tanahnya menyimpan jejak peradaban yang belum seluruhnya terungkap.
Dan pertanyaannya:
Jika dahulu pernah berdiri begitu banyak bangunan suci di kawasan ini, berapa banyak lagi jejak sejarah Dieng yang masih tersembunyi di bawah tanah?















