Inpopedia.co.id, Jakarta, 9 Oktober 2026— Film horor Aplikasi Iblis tidak hanya menawarkan teror dari dunia gaib. Film produksi NIH Pictures ini juga mengangkat gagasan tentang sebuah aplikasi yang mampu menjadi penghubung antara dunia nyata dan dunia lain—sebuah konsep fiksi yang terasa semakin dekat dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Disutradarai Dimas Anggara, Aplikasi Iblis menggabungkan horor, misteri, action, romance, dan drama. Film tersebut menggelar gala premiere di Studio 3, XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026), dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
Penulis skenario Tisa TS mengatakan, aplikasi dalam film merupakan bagian dari gagasan cerita yang sejak awal dikembangkan bersama tim produksi. Konsep tersebut memungkinkan karakter dalam film berinteraksi dengan sesuatu dari dunia lain melalui teknologi.
Menariknya, perkembangan AI saat ini memang telah memungkinkan aplikasi digital berinteraksi dengan manusia secara semakin natural. AI dapat memahami bahasa, suara, gambar, hingga menghasilkan respons yang menyerupai percakapan manusia. Teknologi generatif juga mampu menciptakan wajah, suara, gambar, dan video sintetis yang semakin sulit dibedakan dari konten nyata.
Namun, kemampuan tersebut masih berada dalam ranah teknologi digital dan tidak membuktikan adanya kemampuan aplikasi untuk menghubungkan manusia dengan dunia gaib seperti yang digambarkan dalam film.
Tisa justru mengatakan, kekuatan Aplikasi Iblis bukan semata-mata pada sosok hantunya, melainkan pada persoalan manusia yang terasa dekat dengan kehidupan penonton.
“Film Aplikasi Iblis ini kalau dibilang bukan sekadar film horor, tapi sebenarnya yang paling horor itu kan bukan jump scare,” ujar Tisa.
Menurutnya, kehilangan, pengkhianatan, cinta yang berlebihan, hingga obsesi dapat menjadi sumber ketakutan yang lebih nyata.
Sutradara Dimas Anggara juga menjelaskan bahwa teror dalam film dibangun melalui konsep sebab-akibat dari tindakan Arya yang diperankan Junior Roberts.
“Apa yang dilakukan oleh Arya itu menyebabkan dia mendapatkan teror horornya,” kata Dimas.
Di titik inilah Aplikasi Iblis menarik dibaca dalam konteks perkembangan teknologi. Jika dahulu gagasan tentang aplikasi yang mampu berbicara, mengenali wajah, meniru suara, dan merespons manusia terasa seperti fiksi ilmiah, kini sebagian kemampuan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Yang masih menjadi wilayah fiksi dalam film adalah kemampuan teknologi tersebut untuk benar-benar membuka akses menuju dunia gaib.
Aplikasi Iblis pada akhirnya memanfaatkan teknologi sebagai jembatan cerita untuk membicarakan sesuatu yang lebih manusiawi: bagaimana rasa cinta, kehilangan, dendam, dan obsesi dapat berubah menjadi teror ketika seseorang kehilangan kendali.
Film Aplikasi Iblis tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. (RZ)
















