Inpopedia | Cibitung — Kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku membuat sejumlah pengusaha Dodol Betawi di Kabupaten Bekasi menghadapi tekanan biaya produksi. Beras ketan, gula merah, dan kelapa sebagai bahan utama dodol mengalami kenaikan harga sekaligus semakin sulit diperoleh di pasaran.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi para perajin. Proses pembuatan Dodol Betawi yang membutuhkan waktu hingga delapan jam dengan menggunakan kayu bakar membuat kenaikan harga bahan baku dan operasional semakin membebani pelaku usaha.
Salah seorang pengusaha Dodol Betawi, Marno, mengatakan kelangkaan beras ketan menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi perajin.
Menurutnya, kebutuhan beras ketan untuk produksi mencapai sekitar satu kuintal per hari. Namun, saat ini pasokan yang tersedia jauh di bawah kebutuhan tersebut.
“Kalau ada, jumlahnya hanya sedikit. Sekarang paling sekitar 30 kilogram, padahal kebutuhan produksi sehari bisa mencapai satu kuintal,” ujar Marno saat ditemui awak media.
Selain beras ketan, kelangkaan kelapa tua berkualitas juga turut meningkatkan biaya produksi. Kelapa dibutuhkan untuk menghasilkan santan yang menjadi salah satu unsur penting dalam pembuatan dodol.
Marno menyebut kondisi tersebut menciptakan tekanan dari dua sisi. Di satu sisi harga bahan baku dan biaya produksi meningkat, sementara di sisi lain pengusaha sulit menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
Hal serupa disampaikan Eli, perajin Dodol Betawi lainnya. Menurutnya, kenaikan biaya produksi membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena kenaikan harga jual berpotensi menurunkan daya beli konsumen.
Untuk mempertahankan pelanggan dan mengurangi risiko kerugian, sebagian perajin memilih menyerap kenaikan biaya produksi. Strategi lainnya dilakukan dengan mengurangi volume produksi dan jumlah adukan dodol setiap hari.
Kondisi tersebut menjadi gambaran tekanan yang dihadapi UMKM kuliner tradisional. Kenaikan harga bahan baku yang tidak diikuti dengan kenaikan harga jual secara proporsional membuat margin keuntungan perajin semakin tertekan.
Para pelaku usaha berharap pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM dapat memberikan intervensi untuk menjaga keberlangsungan usaha Dodol Betawi.
Bentuk intervensi yang diharapkan antara lain bantuan atau subsidi bahan baku serta fasilitasi kemitraan langsung antara perajin dengan petani beras ketan dan kelapa. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjamin ketersediaan bahan baku sekaligus menjaga keberlangsungan Dodol Betawi sebagai salah satu warisan kuliner tradisional.
Penulis: Nesin Sasmita





