Inpopedia, TAKALAR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Baruga Karaeng Karunrun, Sanrobone, Kabupaten Takalar, Minggu (6/9/2026), dirangkaikan dengan penganugerahan atau pengukuhan gelar kebangsawanan kepada lima tokoh dan keluarga.
Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi keluarga besar Sanrobone sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, dan adat Kerajaan Sanrobone.
Bupati Takalar Daeng Manye dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas undangan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan silaturahmi keluarga besar Sanrobone.
Ia menegaskan bahwa dirinya memiliki ikatan kekeluargaan dan silsilah dengan keluarga besar Sanrobone. Hal itu juga diperkenalkannya melalui kehadiran istri dan anak-anaknya dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran keluarga dalam acara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan garis keturunan sekaligus memperkuat hubungan kekeluargaan dengan masyarakat dan keluarga besar Sanrobone.
Perkuat Cinta kepada Rasulullah dan Lestarikan Sejarah
Daeng Manye mengatakan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk semakin mempertebal kecintaan kepada Rasulullah SAW serta memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, ia menyoroti besarnya sejarah Kerajaan Sanrobone, khususnya pada abad ke-17. Menurutnya, Sanrobone memiliki nilai historis dan strategis yang penting untuk terus dilestarikan.
Salah satu bukti sejarah yang masih bertahan hingga kini adalah Benteng Sanrobone.
“Sejarah dan kebesaran Sanrobone harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menyebut diaspora masyarakat Sanrobone telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Kalimantan, Papua, Maluku hingga Jakarta, bahkan sampai ke Malaysia.
Soroti Beban Fiskal Takalar
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Takalar juga memaparkan kondisi keuangan daerah yang saat ini menghadapi tekanan fiskal.
Ia mengungkapkan adanya kenaikan efisiensi atau beban anggaran sekitar Rp160 miliar. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Takalar masih memiliki kewajiban pembayaran utang daerah sebesar Rp313 miliar, yang terdiri atas pokok sekitar Rp241 miliar dan bunga Rp72 miliar.
Dalam kurun dua tahun terakhir, Pemkab Takalar disebut telah membayarkan sekitar Rp180 miliar lebih dari kewajiban tersebut.
Menghadapi kondisi itu, Daeng Manye menekankan pentingnya cara berpikir kreatif dalam mencari sumber pembiayaan pembangunan, termasuk melalui pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat di Jakarta.
Menurutnya, pemerintah daerah harus mampu menyusun proposal pembangunan yang matang, termasuk menyiapkan Detail Engineering Design (DED) sebagai salah satu dokumen pendukung untuk mengakses sumber pembiayaan pembangunan.
Dorong Potensi Lokal dan Investasi
Daeng Manye juga mendorong optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki Kabupaten Takalar. Potensi tersebut antara lain pemberdayaan UMKM, pariwisata, tambak, perikanan dan pertanian.
Selain mengembangkan potensi masyarakat lokal, pemerintah daerah juga berupaya menarik investor untuk masuk ke Takalar sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Hidupkan Kembali Tradisi Lokal
Dalam bidang kebudayaan, Pemkab Takalar berkomitmen mengaktifkan kembali berbagai kegiatan kebudayaan serta nilai-nilai sejarah dan adat yang berkaitan dengan Kerajaan Sanrobone.
Salah satu tradisi yang didorong untuk kembali digiatkan adalah Kaddo Minyak yang dilaksanakan setiap tanggal 18. Tradisi tersebut diharapkan dapat kembali dilaksanakan di seluruh desa di Kabupaten Takalar sebagai sarana menjaga silaturahmi sekaligus memelihara rasa syukur masyarakat.
Menutup sambutannya, Daeng Manye menyampaikan ucapan selamat atas penganugerahan atau pengukuhan gelar kebangsawanan kepada lima tokoh dan keluarga.
Ia berharap pemberian gelar tersebut tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga sejarah, adat, budaya dan identitas masyarakat Sanrobone di tengah perkembangan zaman.















