Inpopedia, YOGYAKARTA – Jogja Coffee Week (JCW) #6 tidak hanya menjadi ajang pertemuan pelaku industri kopi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan untuk memperkuat masa depan perkopian Indonesia.
Hal itu terlihat dalam kunjungan Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S.I. ke Stan A32 Coffee Painting Rudi Winarso, di Hall B-C Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Coffee Painting karya Rudi Winarso menarik perhatian karena menghadirkan inovasi pemanfaatan kopi dan ampas kopi sebagai bagian dari material untuk menghasilkan karya seni bernilai ekonomi.
Karya tersebut menunjukkan bahwa kopi tidak hanya dapat dinikmati sebagai minuman, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk seni, kreativitas, edukasi, dan ekonomi kreatif.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Rachmat Pambudy juga terlibat dalam perbincangan mengenai pengembangan sumber daya manusia dan ekosistem perkopian nasional bersama Pulung WP, entrepreneur, penggiat kopi sekaligus Founder HP Management.
Salah satu gagasan yang mendapat sambutan positif adalah keberadaan Sekolah Kopi Nusantara di Yogyakarta.
Pulung WP menyampaikan bahwa keberadaan sekolah kopi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi tempat belajar teknik menyeduh kopi, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perkopian Indonesia secara lebih menyeluruh.
“Sekolah Kopi Nusantara ini diharapkan bisa menjadi bagian dari pembangunan SDM sekaligus membangun ekosistem perkopian nasional dari hulu sampai hilir,” ujar Pulung dalam perbincangan tersebut.
Menurutnya, penguatan SDM menjadi faktor penting karena industri kopi nasional membutuhkan sumber daya manusia yang memahami seluruh mata rantai perkopian, mulai dari budidaya, pascapanen, pengolahan, roasting, penyeduhan, bisnis, pemasaran hingga pengembangan produk kreatif.
Membangun Ekosistem Kopi dari Hulu hingga Hilir
Gagasan Sekolah Kopi Nusantara di Yogyakarta diarahkan untuk menjadi salah satu simpul pengembangan ekosistem kopi nasional.
Tidak hanya mencetak barista, sekolah tersebut diharapkan mampu mempertemukan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan kopi.
Mulai dari petani, pengolah pascapanen, roaster, barista, pelaku UMKM, entrepreneur, akademisi, peneliti hingga pelaku industri kreatif dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Dengan pendekatan tersebut, kopi Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu menghasilkan semakin banyak produk turunan dan karya bernilai tambah.
Konsep ini juga memiliki keterkaitan dengan Coffee Painting yang diperkenalkan Rudi Winarso.
Pemanfaatan kopi dan ampas kopi sebagai material seni merupakan salah satu contoh bagaimana kreativitas dapat membuka ruang baru bagi peningkatan nilai tambah komoditas kopi.
Membawa Kopi Indonesia ke Pentas Dunia
Pembicaraan tersebut juga mengarah pada visi yang lebih luas, yakni membawa perkopian Indonesia ke tingkat internasional.
Indonesia memiliki keragaman kopi yang sangat besar, baik dari sisi daerah penghasil, varietas, karakter cita rasa, tradisi maupun budaya yang menyertainya.
Karena itu, pengembangan SDM dan ekosistem kopi nasional diharapkan dapat memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar dunia.
Bukan hanya melalui ekspor biji kopi, tetapi juga melalui pengetahuan, teknologi, produk olahan, seni, budaya dan pengalaman yang melekat pada kopi Indonesia.
Dalam konteks inilah muncul gagasan menjadikan kopi sebagai media diplomasi.
Kopi dapat menjadi sarana memperkenalkan Indonesia kepada dunia sekaligus membangun hubungan antarmasyarakat, antarkomunitas, pelaku usaha, akademisi hingga antarnegara.
“Coffee diplomacy” dapat menjadi pendekatan baru dalam memperkenalkan kekayaan kopi sekaligus budaya Indonesia di forum internasional.
Yogyakarta sebagai Ruang Pengembangan Kopi dan Kreativitas
Yogyakarta dinilai memiliki modal penting untuk mengembangkan gagasan tersebut. Selain memiliki ekosistem pendidikan, seni, budaya dan pariwisata yang kuat, Yogyakarta juga memiliki komunitas kopi dan pelaku ekonomi kreatif yang terus berkembang.
Kehadiran Sekolah Kopi Nusantara diharapkan dapat mempertemukan kekuatan tersebut sehingga kopi dapat berkembang menjadi bagian dari pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata sekaligus diplomasi.
Dalam kunjungan ke Stan A32 Coffee Painting, hadir pula sejumlah tokoh dan penggiat yang turut memberi warna dalam diskusi perkembangan kopi, antara lain Harry S., penulis buku; Rahadi Abra, Ketua Jogja Coffee Week; Prof. Suyanto, Owner & Founder Universitas AMIKOM Yogyakarta; Rudi Winarso, pelukis Coffee Painting; serta Pulung WP, entrepreneur, penggiat kopi dan Founder HP Management.
Pertemuan tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan kopi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
JCW#6 Bukan Sekadar Festival Kopi
Jogja Coffee Week #6 yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di JEC Yogyakarta dengan tema “Inclusive Vibes” menunjukkan bahwa kopi telah berkembang menjadi sebuah ekosistem yang melibatkan banyak sektor.
Dari petani hingga konsumen, dari industri hingga seni, dari pendidikan hingga pariwisata, semuanya dapat terhubung melalui kopi.
Kehadiran Coffee Painting Rudi Winarso di Stan A32 sekaligus gagasan Sekolah Kopi Nusantara memperlihatkan satu pesan penting: masa depan kopi Indonesia bukan hanya tentang bagaimana menjual kopi, tetapi bagaimana menciptakan nilai, membangun manusia, memperkuat ekosistem dan membawa identitas kopi Indonesia ke panggung dunia.
Jika gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah, pelaku industri, akademisi, komunitas, seniman dan generasi muda, Yogyakarta berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan SDM dan diplomasi kopi Indonesia.
Dari secangkir kopi, lahir karya. Dari karya, lahir kreativitas. Dan dari kreativitas, terbuka peluang untuk membangun ekosistem kopi Indonesia yang semakin kuat dari hulu hingga hilir dan dari Yogyakarta menuju dunia.
(Herman)















