pasang banner iklan 728x90
bo

Politik Dendam, Suksesi Kepemimpinan di Indonesia Tradisi Gelap Berulang

banner 120x600
banner 468x60

Inpopedia – Presiden Prabowo Subianto meminta pihak yang ingin menggantinya agar menunggu hingga tahun 2029. Dia meminta pihak-pihak tertentu untuk sabar menunggu Pilpres 2029 mendatang.

“Mau ganti saya? Tunggu dong 2029. Hal itu disampaikan Prabowo saat berdiskusi dengan jurnalis dan pengamat di Hambalang, Sabtu 21 Maret 2026.

Jangan pernah berharap politik Indonesia benar-benar dewasa jika dendam masih menjadi mata uang utamanya.

Sejak awal republik ini berdiri, suksesi kekuasaan tidak pernah benar-benar bersih dari rasa sakit, pengkhianatan, dan ketidakikhlasan. Dari tumbangnya Soekarno, naiknya Soeharto, hingga hari ini di bawah Prabowo Subianto, satu pola terus berulang: kekuasaan berpindah, tetapi dendam tetap tinggal.

Dan dendam itulah yang kini kembali bekerja.

Suksesi yang Selalu Berdarah, Meski Tak Selalu Terlihat

Jatuhnya Soekarno bukan sekadar pergantian pemimpin—itu adalah pergeseran kekuasaan yang penuh tekanan, intrik militer, dan pembungkaman sejarah. Tidak ada “legowo” dalam peristiwa itu. Yang ada hanyalah paksaan yang dibungkus legitimasi.

Lalu datang Soeharto, yang berkuasa puluhan tahun dengan stabilitas yang dibangun di atas ketakutan. Ketika ia akhirnya tumbang pada 1998, publik bersorak. Tapi di balik euforia itu, dendam baru mulai disusun. Elite lama disingkirkan, sebagian diburu, sebagian lain bersembunyi menunggu momentum balik.

Reformasi tidak menghapus dendam. Ia hanya mendistribusikannya ke lebih banyak aktor.

Reformasi: Demokrasi Tanpa Kedewasaan

Era pasca-Soeharto sering dipuji sebagai kemenangan demokrasi. Tapi mari jujur: ini adalah demokrasi yang belum selesai dengan masa lalunya.

Presiden dijatuhkan bukan hanya karena gagal, tapi karena kalah manuver. Abdurrahman Wahid dilengserkan lewat intrik politik, bukan sekadar evaluasi kinerja. Koalisi berubah bukan karena visi, tapi karena kepentingan.

Di Indonesia, kekuasaan bukan tentang mandat rakyat semata—ia adalah hasil dari negosiasi, tekanan, dan kadang balas dendam yang tertunda.

Prabowo: Presiden yang Sudah Digoyang Sejak Awal

Hari ini, Prabowo menghadapi realitas yang sama—bahkan sebelum pemerintahannya benar-benar berjalan stabil.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) belum selesai diuji, tapi sudah dihujani delegitimasi. Kritik memang sah. Bahkan wajib. Tapi yang terjadi sering kali melampaui kritik: ini adalah upaya membangun persepsi gagal sejak dini.

Narasi yang dibangun bukan lagi “evaluasi kebijakan”, melainkan “pemerintahan ini tidak layak dilanjutkan”.

Lebih jauh, mulai muncul desakan agar Prabowo diganti. Sebuah tuntutan yang terasa prematur—dan sulit dilepaskan dari aroma politik lama: menjatuhkan sebelum kuat.

Ini bukan sekadar dinamika demokrasi. Ini adalah gejala klasik: kekuasaan yang tidak pernah benar-benar diterima oleh semua pihak.

Politik Indonesia: Menang Tanpa Ampun, Kalah Tanpa Legowo

Masalah mendasarnya sederhana, tapi kronis: elite politik Indonesia tidak pernah benar-benar belajar kalah.

Kekalahan dianggap sebagai kehancuran total. Kemenangan dianggap sebagai lisensi untuk menghabisi lawan. Tidak ada ruang untuk oposisi yang sehat, karena oposisi lebih sering berfungsi sebagai kekuatan sabotase daripada kontrol.

Akibatnya, setiap presiden—siapa pun dia—akan selalu berada dalam posisi bertahan. Bukan hanya menjalankan pemerintahan, tapi juga meredam upaya menjatuhkan dirinya.

Dendam yang Dipelihara, Bukan Diselesaikan

Yang lebih berbahaya, dendam dalam politik Indonesia tidak pernah diselesaikan—ia diwariskan.

Relasi antar elite bukan dibangun dari ide atau program, tetapi dari sejarah konflik: siapa pernah disingkirkan, siapa pernah mengkhianati, siapa pernah dipermalukan. Politik menjadi arsip luka yang terus dibuka kembali setiap momentum kekuasaan datang.

Dalam kondisi seperti ini, stabilitas bukan ditentukan oleh kinerja pemerintah, tetapi oleh seberapa kuat ia mampu menahan guncangan politik.

Demokrasi yang Selalu Setengah Matang

Kita sering membanggakan demokrasi Indonesia sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Tapi ukuran besar tidak selalu berarti matang.

Demokrasi yang matang ditandai oleh dua hal sederhana:
yang kalah bisa menerima, yang menang tidak membalas.

Indonesia belum sampai di sana.

Selama dendam masih menjadi fondasi relasi politik, maka setiap suksesi hanya akan melahirkan konflik baru. Presiden akan terus digoyang, oposisi akan terus mencari celah menjatuhkan, dan rakyat hanya menjadi penonton dari pertarungan elite yang tidak pernah selesai.

Penutup: Siapa Pun Presidennya, Nasibnya Akan Sama

Hari ini Prabowo merasakan tekanan itu. Besok, siapa pun penggantinya akan menghadapi hal yang sama.

Karena masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada budaya politik itu sendiri.

Selama politik Indonesia masih memelihara dendam, maka kekuasaan tidak akan pernah benar-benar stabil. Dan selama itu pula, republik ini akan terus berjalan—bukan sebagai demokrasi yang matang, tetapi sebagai arena pertarungan tanpa akhir.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam